Blog > Blog > Blog > Jatuh cinta? Udah lupa tuh…
Sovia

Jatuh cinta? Udah lupa tuh…

Thursday Aug 20, 2009

308111540_8085be72ac

Seorang sahabat maen ke rumah buat ngajak hangout setelah sekian bulan qta susah ketemu. Yah, aq stuck ngerjain skripsi dan dia sibuk kerja. Timingnya pas karena banyak stori yang butuh wadah penyaluran. Lalu kami nongkrong di mall sambil memesan spagetti dan segelas cola medium. Obrolan mengalir dengan curhatannya tentang seorang cowok. Sahabatku mengaku lagi jatuh cinta. Aq perhatikan matanya berbinar-binar, dia nyebut nama cowok itu berulang kali, senyum ga pernah lepas saat nyeritain gimana sosok si cowok. Dia inget detil-detil yang mereka obrolin di telpon, kata-kata di sms, wall di facebook dan suasana datingnya. And somehow in our random conversation, dia selalu berusaha mengkaitkannya dengan cowok itu. Magic hah? Her memory become incredibly amazing about a tiny thing. If it’s connected to him.

Then, I find out myself forget how it feel. How it feel when we’re fall in love? Kaynya udah lama banget saat aq terakhir jatuh cinta. Mmh…2 taon lalu. Waw…what’s wrong with me? Ternyata kalo dipikir suatu relationship itu tetep bisa berjalan meski qta ga jatuh cinta. I dunno. Maybe alasan-alasan lain ikut berperan kayak logika mengenai background si cowok, norma sosial bahwa sudah saatnya qta cari pasangan, dorongan keluarga dan teman-teman untuk memilih seseorang daripada orang lain atau takut sendirian dalam status. And in seconds, voila…u are in relationship.

Tapi sebenernya penting ga sih jatuh cinta dalam sebuah hubungan? Atau seberapa besar pentingnya? Hmmm…dari dulu sampe sekarang, nasehat yang banyak berdengung di antara cewek-cewek: lebih baik qta yang dicintai daripada qta yang mencintai, karena nanti hubunganmu akan aman dan jauh dari sakit hati. Sumpah de, kaynya tiap orang yang aq mintain saran suka ngeluarin jurus ini. Secara kritis aq bilang: bener ta?

Well, let me tell u, kakak-kakak cewekku dan kakak ipar cewekku ga jatuh cinta pada suaminya pas mereka menikah. Mereka berpikir simpel: yang penting tuh cowok baek, agama oke, punya kerjaan bagus, keluarga baek-baek. That’s all. Terus merit dan punya anak-anak. They’re happy.

Teman-temanku juga banyak yang contohnya kay gitu. Yang agak gres, aq punya sepupu cewek yang disukain ama temen masku. Karena tuh cowok sesuai dengan kriteria simpel di atas, sekeluarga pada ngejodohin sepupuku itu ama si cowok ini. Sepupuku menolak keras karena dia suka ma cowok laen dan menurutnya si cowok ini sama sekali bukan tipenya. Berbulan-bulan dia tetep ga mau ma tuh cowok. Padahal cowok ini udah pedekate mulai dari nenekku, keluarganya, keluargaku, keluarga bulekku, pokoknya keluarga besar qta dideketin abis-abisan. Kadang disogok pake makanan enak juga. Hehe.

Tapi sepupuku masih ogah dan memilih menunggu cowok idamannya melamar. Emang dasar keukeuh ya temen masku ini. Dia malah datang ngelamar ke bapaknya sepupuku jauh-jauh ke ujung Jawa Tengah. Dan akhirnya mereka menikah. Sekarang tau ga gimana? Sepupuku ini kontan jadi posesif ama suaminya kalo suaminya telat pulang kerja dan kangen berat kalo suaminya dinas keluar kota.

So, penting ga sih jatuh cinta ama pasangan qta sebelum qta menikah? Atau maybe itu penting kalo qta udah menikah aja? Coz it will cause a big hesitation when we’re gonna married to someone who we’re not in love with. I mean, maybe someone we love waiting outside and we let him passing by. Or maybe we just have to think in simply way and throw away all this critical-complicated stuffs. Rasulullah aja menikah dengan pikiran sederhananya, menikah untuk menyempurnakan agama dan menjaga dari fitnah. It just married, no big deal about that. Tapi qta yang sekarang hidup di badai modernisasi malah bikin ini jadi rumit.

Yeah, its about choice when we decide which thought we choose.
If it’s me, I decide to let everythings flow like how it should be. Aq ga mau capek-capek mikir kay gimana ending love story-ku. I let it to destiny while I’m doing another exciting single-things. Then I’ll wait Allah works in mysterious way.

Post to Twitter Tweet This Post Post to Facebook Share on Facebook

Beri Komentar